http://anaktelkom.com/2016/06/8-alasan-mengapa-bem-telkom-university-belum-diperlukan/

Tulisan ini tercolek karena ada se-kelompok yang coba membangun opini dengan menyebutkan tentang “BEM tidak perlu”. Alasannya berputar-putar pada pemahaman, hasil setelah 100 hari BEM. Mereka menanyakan, apakah BEM setelah seratus hari sudah melakukan perubahan sesuai dengan visi dan misi? Apakah jika BEM tidak ada kemudian mahasiswa ga bisa jadi mahasiswa? Dan perntanyaan-pertanyaan yang coba dikuatkan untuk mendukung opini.

Kalau coba dilihat lagi, Saya kira perntanyaan-pertanyaan yang dilempar tidak ada korelasinya dengan apakah BEM perlu atau tidak. Mereka mempertanyakan hasil, kemudian mengangkat apakah yang menjadi subjek hasil tersebut perlu atau tidak?

Tapi coba saya ingin sedikit ikut bercanda dan nongkrong bareng terkait opini ini. Kalau kita pahami seksama, kenapa pihak kampus memberikan hak mahasiswanya untuk memiliki BEM? Kenapa tidak pihak kampus saja yang mengatur seluruh birokrasi di kampus ini? Kenapa tidak pihak kampus saja yang membuat silaturahim akbar pun sekaligus angkat-angkat kursinya? Mendatangi mahasiswanya satu-satu yang bermasalah karena ribetnya regulasi pembayaran kuliah? Atau kita perlu menanyakan kenapa kampus-kampus besar seperti UI, UGM, ITB masih pakai BEM? Kan ga perlu :3

Meski apa yang coba diangkat terkait “BEM tidak perlu” ini hanya sebuah luapan ekspresi dari ketidak puasan kinerja BEM, saya pribadi tetap tidak sepakat, terlebih karena alasan tersebut tidak dicantumkan. Ini akan menimbulkan perspektif bahwa mahasiswa kita sangat jauh levelnya dengan pemahaman tentang demokrasi.

Sebagian besar masyarakat kita sepakat bahwa replika sebuah Negara adalah kampus. Didalamnya ada pemahaman tentang mahasiswa yang bernegara (ber-kampus) dengan menyerahkan kontrol  pada pemerintahan (BEM) sebagai hasil dari demokrasi itu sendiri. maka sebagai mahasiswa dan sebagai demokrat sejati mahasiswa harus belajar memahami hak-hak tersebut. Proses pematangan ini akan terbentuk dari pemahaman demokrasi yang tepat dan politik yang benar.

Terakhir, mengutip apa yang Voltaire sampaikan, “Saya berlawanan pendapat dengan anda, tetapi saya akan lindungi hak anda untuk hidup dan berbeda pendapat dengan saya”. Mari budayakan berdiskusi dengan bijak.

Iklan